Minggu, 21 November 2010

TOPIK II : SUB BAHASAN : ALIRAN-ALIRAN UTAMA DALAM AKSIOLOGI BAGIAN 2

rangkuman Filsafat hukum BAB II aliran-aliran berfikir filsafat . Aksiologi Etika

Aksiologi : Etika

1.Etika Teleologis
Teleologis berasal dari bahasa Yunani, yakni “telos” yang berati tujuan. Etika teleologis menjadikan tujuan menjadi ukuran untuk baik buruknya suatu tindakan. Dengan kata lain, suatu tindakan dinilai baik kalau bertujuan untuk mencapai sesuatu yang baik atau kalau akibat yang ditimbulkan baik.Baik-buruknya perilaku orang dinilai dari apakah perilaku itu menunjang proses pencapaian tujuan akhir hidupnya sebagai manusia dan merupakan bentuk perwujudan nilai-nilai yang dicita-citakan dalam hidupnya sebagai manusia, atau sebaliknya menghambat dan merupakan pengkhianatan terhadap cita-cita tersebut

Filsafat moral Bentham

merefleksikan apa yang ia sebut pada waktu berbeda sebagai "the greatest happiness principle" atau "prinsip utilitas"—sebuah istilah yang sebenarnya berasal dari Hume. Meskipun berhubungan dengan prinsip ini ia tidak hanya mengacu pada kegunaan benda-benda atau tindakan, tapi lebih jauh lagi pada benda atau tindakan yang membawa kebahagiaan umum. Khususnya kewajiban moral yang menghasilkan the greatest amount of happiness for the greatest number of people, kebahagiaan yang ditentukan dengan adanya kenikmatan dan hilangnya kesakitan. Selanjutnya, Bentham menulis, "By the principle of utility is meant that principle which approves or disapproves of every action whatsoever, according to the tendency which it appears to have to augment or diminish the happiness of the party whose interest is in question: or, what is the same thing in other words, to promote or to oppose that happiness." Dan Bentham menunjukkan bahwa hal ini berlaku untuk "setiap tindakan secara keseluruhan" yang tidak memaksimalkan the greatest happiness (seperti pengorbanan yang menyebabkan kesengsaraan ) secara moral adalah tindakan yang salah.(tak seperti usaha pengartikulasian pada hedonisme universal, pendekatan Benthamis lebih naturalistik.)
Filsafat moral Bentham, secaa jelas merefleksikan pandangan psikologis bahwa motivator utama dalam diri manusia adalah kenikmatan dan kesengsaraan. Bentham menerima bahwa versinya dari prinsip utilitarian adalah sesuatu yang tidak memasukkan bukti langsung, tapi dia mencatat bahwa hal tersbut bukanlah sebuah masalah sebagaimana prinsip penjelasan tak menunjukkan penjelasan apapun dan semua penjelaan harus dimulai pada suatu tempat. Tapi karena itulah tidak menjelaskan mengapa kebahagiaan lain –atau kebahagiaan umum—harus dihitung. Dan pada faktanya dia menyediakan sejumlah saran yang dapat disebut sebagai jawaban terhadap pertanyaan mengapa kita harus peduli dengan kebahagiaan orang lain.

Pertama, menurut Bentham, prinsip utilitarianisme adalah sesuatu yang individu, dalam bertindak, mengacu pada eksplisitas dan implisitas, dan ini sesuatu yang dapat ditentukan dan dikonfirmasikan dengan observasi sederhana. Tentunya, Bentham berpegangan bahwa semua sistem moralitas yang ada dapat “direduksi pada the principles of sympathy and antipathy," yang pastinya mampu mendefinisikan utilitas.

Argumen kedua Bentham adalah, jika kenikmatan adalah sesuatu yang baik, kemudian kebaikannya menggangu kesenangan orang lain. Meskipun, sebuah halangan moral untuk mengiuti atau memaksimalkan kesenangan telah mendorong secara independen dari interest tertentu dari tindakan manusia. Bentham juga menyarankan bahwa individual akan secara beralasan mencari kebahagiaan umum dengan mudah karena hasrat dari orang lain adalah dikepung oleh mereka sendiri, meskipun ia tahu bahwa hal ini adalah mudah bagi bahwa hal tersebut mudah bagi individu untuk dilupakan.

. Etika Deontologis

Istilah deontologis berasal dari kata Yunani yang berati kewajiban, etika ini menetapkan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik. Argumentasi dasar yang dipakai adalah bahwa suatu tindakan itu baik bukan dinilai dan dibenarkan berdasarkan akibat atau tujuan baik dari suatu tindakan, melainkan berdasarkan tindakan itu sendiri baik pada dirinya sendiri.

Dari argumen di atas jelas bahwa etika ini menekankan motivasi, kemauan baik, dan watak yang kuat dari pelaku, lepas dari akibat yang ditimbulkan dari pelaku. Menanggapi hal ini Immanuel kant menegaskan dua hal:

· Tidak ada hal di dinia yang bisa dianggap baik tanpa kualifikasi kecuali kemauan baik. Kepintaran, kearifan dan bakat lainnya bisa merugikn kalau tanpa didasari oleh kemauan baik. Oleh karena itu Kant mengakui bahwa kemauan ini merupakan syarat mutlak untuk memperoleh kebahagiaan.

· Dengan menekankan kemauan yang baik tindakan yang baik adalah tindakan yang tidak saja sesuai dengan kewajiban, melainkan tindakan yang dijalankannya demi kewajiban. Sejalan dengan itu semua tindakan yang bertentangan dengan kewajiban sebagai tindakan yang baik bahkan walaupun tindakan itu dalam arti tertentu berguna, harus ditolak.

Dalam hai ini Kant menempatkan benar terlebih dahulu, baru yang baik

TOPIK II : SUB BAHASAN : ALIRAN-ALIRAN UTAMA DALAM AKSIOLOGI

ETIKA DEONTOLOGIS

Teori ini merupakan cabang ilmu filsafat yang mengatur tentang moralitas. Menurut penganut teori ini, ontology adalah etika (disiplin otonom) filsafat yang utama, karena tentang nilai yang bersifat subjektif dimana ukuran baik-buruk diukur langsung dari tindakan fisik, Jadi disini yang menentukan adalah masing-masing individu.. Kant menjelaskan bahwa moralitas memerlukan keadilan, yang hanya dapat ditetapkan oleh Tuhan. Sehingga nilai moral hanya memiliki eksistensi selama manusia bertindak atas dasar rasa kewajiban = Imperatif Kategoris (lawan dari imperatif hipotesis) KEWAJIBAN MORAL , KEHARUSAN.
a. DEONTOLOGIS TINDAKAN
Adalah suatu kewajiban untuk dilakukan, tidak bersifat adaptif, karena keadaan selalu berbeda-beda sehingga harus ada aturan yang berlaku pada segala keadaan. IMMORTAL
b. DEONTOLOGIS ATURAN
Adalah suatu tindakan dianggap benar atau salah sangat tergantung pada aturan positif yang berlaku, sehingga tidak ada aturan yang dapat berlaku untuk semua keadaan namun lebih dapat beradaptasi dan berubah dibandingkan dengan deontologis tindakan.

ETIKA TELEOLOGIS
Suatu tindakan baik-buruk dinilai dari akibat dari suatu tindakan tersebut (Bentham-Utilitarianism) Karena manusia mau berbuat atas pamrih tertentu IMPERATIF HIPOTESIS.

ETIKA SITUASI
Suatu tindakan baik-buruk dinilai dari situasi yang terjadi pada saat melakukan perbuatan tersebut. Tidak ada ukuran yang pasti, tidak ada kewajiban secara mutlak yang menyebabkan otoritas masyarakat, sehingga lebih condong kepada etika fenomenologis.

REFLEKSI
Tanggapan kami terhadap rangkuman di atas adalah bahwa Aksiologi terbagi kedalam tiga macam diantarnya adalah :
• Etika Deontologis
• Etika Teleologis
• Etika Situasi
Dimana masing-masing mempunyai ke khasan dan ciri-ciri yang berbeda satu sama lainnya.

DISKUSI
Etika yang manakah yang lebih cocok dengan situasi dan keadaan yang selalu berkemabang seperti saat in?

TOPIK II : SUBPOKOK BAHASAN : ALIRAN-ALIRAN UTAMA DALAM EPISTIMOLOGI

Epistemologi : Rasionalisme
Sumber pengetahuan manusia adalah rasio atau akal budi manusia
Menurut Rene Descartes bahwa rasionalisme di awali oleh sebuah keraguan karna keraguan digunakan untuk mencapai pengetahuan sejati, rasio adalah indicator kebenaran yang universal (logika), bahkan indikator baik-buruk secara moalitas (etika). Metodenya harus pasti yaitu metode matematika
Tiga persyaratan keyakinan Descartes :
  1.  Kepastian adalah kemustahilan untuk dibantah, harus rasional, jelas, dan berbeda dari keyakinan lainnya, oleh karena itu manusia mampu melakukan rasio karena sudah bawaan
  2. Kepastian adalah keyakinan terakhir, tidak digantungkan pada keyakinan lainya artinya keberadaannya tidak dipengaruhi hal lain
  3. Kepastian haruslah tentang sesuatu yang eksis, ada dan secara rasio dibenarkan.

Epistimologi: Empirisme
John locke mengemukakan dua pertanyaan besar yaitu :
1. Dari mana kita mendapat pengetahuan kita ?
2. Apakah kita dapat mempercayai hasil pengamatan indera kita ?
Menurutnya bahwa tidak ada ide bawaan, semua pengetahuan yang di dapat manusia adalah hasil refleksi dari pengalaman yang kita alami menjadi sebuah ide pengetahuan sederhana.Dan apa yang kita dapat dan diterima oleh indera kita, ditanggapai oleh rasio kita menjadi sebuah pengetahuan yang kompleks
John locke memberi gambaran bagaimana pengetahuan itu bisa di ingat oleh manusia, bahwa manusia seperti Tabula Rasa yang ketika hasil tulisannya telah penuh maka langsung di hapus kembali artinya bahwa pengetahuan manusia selalu diperbaruhi oleh pengalaman dan apa yang mereka terima oleh indera mereka.
George Barkeley mengatakan bahwa pengalaman bukan mempersepsikan fisik benda, tetapi persepsi tentang sifat (kualitasnya) saja, Jadi tidak ada kualitas primer, yang ada kualitas sekunder aja. Contohnya misalnya ada seseorang mengingat tentang pengalaman terjatuh ketika berlari namun yang paling diingatnya adalah rasa sakit yang dideritanya ketika terjatuh, rasa sakit itulah yang menjadi kualitas sekunder yang memberi informasi kepada otak kita tentang kejadian tersebut, bukan saat jatuhnya namun rasa sakit yang timbul karena jatuh tersebut yang menjadi sebuah pengetahuan.

Menurut David Hume
Ada dua jenis persepsi manusia :
Kesan    : Persepsi inderawi (dengan kesadaran tinggi)
Gagasan : Ingatan atas persepsi itu
Bahwa gagasan sederahana atau tunggal, muncul dari kesan sederhana, langsung terkait dengan konsep tertentu. Gagasan kompleks, tak terkait langsung dengan subjek tetapi bisa di pecah menjadi banyak gagasan sederhana, Jadi jika tidak ada kesan dan gagasan maka tidak ada ingatan akan pengalaman tersebut dan jika gagasan tanpa pesan maka gagasan tersebut tanpa makna.

Manusia terbiasa membuat gagasan dengan tiga cara
  1. Kemiripan, misalnya gagasan tentang Aristoteles. Mengapa kita tahu mengapa dia adalah Aristoteles Karena kita memiliki gagasan yg cukup bahwa membuktkan dia adalah aristoteles bardasarkan cirri-ciri dan kemiripannya.
  2. Kedekatan, misalnya tentang gagasan pemikiran Aristoteles
  3. Kausalitas, yaitu sebab akibat. Suatu sebab dapat menimbulkan sebuah akibat yang memang sesuai harapan memang seharusnya terjadi seperti demikian.
Epistemologi: Positivisme
Hukum tiga tahap Auguste Comte :
1. Tahap Teologis (fiktif)
2. Tahap Metafisis (abstrak)
3. Tahap Positivis (riil)
Positiv berarti :
- Kenyataan, lawannya khayal. (objek kajian tunggal)
- Kepastian, lawannya keraguan. (keseimbangan logis)
- Ketepatan, lawannya kekaburan. (kejelasan pengertian)
- Kemanfaatan, lawannya sekedar rasa ingin tahu. (kemajuan
- Keteraturan, lawannya negative. (penataan, penertiban)

Lima Asumsi dasar positivism
  1. Logiki emirisme, yaitu kebenaran yang pembuktinnya secara empiri artinya segala sesuatu dianggap benar apabila dibuktikan secara empiris.
  2. Realitas Objektif, yaitu suatu relitas saja, tiada tempat untuk interprstasi subjek. Hanya ada satu realitas yaitu objeknya dapat dilihat.
  3. Reduksionisme, menunjuk objek yang bisa ditelaah dan objeknya bisa di reduksi. Setiap objek dapat diamati dalam satuan kecil. Jika tidak ada, maka itu bukanlah realitas (missal Tuhan). Reduksionisme pada zaman modern diarahkan ke hokum-hukum fisika
  4. Determinisme yaitu sesuatu yang sudah pasti. Keteraturan dunia karena hokum kausalitas yang linea. Dengan ilmu kita dapat mengendalikan dunia
  5. Asumsi bebas nilai. Tak ada tempat untuk subjektivitas, sehingga nilai-nilai tak relevan. Ilmu-ilmi selalu bebas nilai. Objek menentukan, sehingga subjek tidak diberi tempat untuk interpreastasi.
Epistimologis: Intusionisme
Intuisionisme yaitu saling menentuka, menyatu dan tak berjarak. Melihat sesuatu yang tampak dari tahap-tahap dan ditopang kedalam empirik dan rasio
Indikasi intuisi berkerja :
- Frekuensi terjadinya itu sangat jarang (langka)
- Datangnya tidak dapat diprediksi
- Subjek mengenal secara mendalam peristiwa yang tengah dihadapi dan menangkap sinyal-sinyal tidak lazim.
Henry Bergson (1859-1941)
Intuisi sebagai filsafat hidup. Intuisi adalah naluri yang tak terpengaruh, sadar diri, mampu merenungkan objeknya dan memperluasnya secara terbatas.
Edmun Husseri (1859-1938)
Intuisi fenomenologis (objek dibiarkan bicara sendiri contohnya melihat sejauha mana eksistensinya..
Fenomena (gejala) hanya mungkin ditangkap dengan intuisi ( tanpa melalui tahap-tahap penyimpulan inferensial )

TOPIK II : ALIRAN-ALIRAN BERPIKIR DALAM FILSAFAT, SUB POKOK BAHASAN : ALIRAN-ALIRAN UTAMA DALAM METAFISIKA

Aliran –Aliran Berpikir Filsafat

Sistematika filsafat yang terdiri dari :
A.monisme yang berarti hanya salah satu , apakah itu adalah materialisme (yang berasal dari sesuatu yang konkrit/materi. Atau idealisme yang berasal dari sesuatu yang abstrak/gagasan.
B.Dualisme yang berarti mengambil kebaikan dari kedua teori yaitu teori materialisme dan idealisme.
C.Agnotosisme yaitu aliran yang berujung pada ketidakadanya suatu kesimpulan.

Sistematika filsafat juga terdiri dari metafisika , epistimologi , dan aksiologi .

Metafisika Materialisme 

Tokoh metafisika materialisme diantaranya adalah Demokritos ,Hobbes , karl marx .
Metafisika materialisme mempunyai kecenderungan Atheis , disini juga dikatakan bahwa realitas ada karena materi , materi itulah yang abadi sebagai realitas .
Demokritos (460-370 SM) mengatakan bahwa sesuatu yang ada (materi) hanya lahir dari materi . Menurutnya materi terkecil adalah atom , bergerak dalam ruang kosong dan dinamis lalu terciptalah hukum-hukum alam .
Pendapatnya tersebut didukung oleh Thomas Hobbes (1588-1679) yang mengatakan bahwa semua fenomena adalah materi , termasuk kesadaran dan jiwa yang berasal dari gerakan partikel kecil dalam otak yang disebut Mekanisme .
Hal tersebut juga diperkuat oleh Isaac Newton (1624-1727) yang mengatakan bahwa menemukan prinsip mekanisme yang sama dalam alam tak ada kehendak bebas melainkan bahwa semuanya itu telah ditentukan yang disebut dengan Determinisme .
Maka dapat dikatakan bahwa ide itu muncul dari suatu materi sehingga materi menjadikannya lebih hakiki daripada ide .
Karl Marx (1818-1883) mengatakan bahwa sejarah digerakan oleh dialektika materi , perubahan ide karena perubahan materi . Dalam pandangannya, filsafat tidak boleh statis, tetapi harus aktif membuat perubahan-perubahan karena yang terpenting adalah perbuatan dan materi, bukan ide-ide (hal ini berbeda dengan Hegel). Manusia selalu terkait dengan hubungan-hubungan kemasyarakatan yang melahirkan sejarah. Manusia adalah makhluk yang bermasyarakat, yang beraktivitas, terlibat dalam suatu proses produksi. Hakikat manusia adalah kerja (homo laborans, homo faber). Jadi, ada kaitan yang erat antara filsafat, sejarah dan masyarakat. Pemikiran Karl Marx ini kemudian dikenal dengan Materialisme Historis atau Materialisme Dialektika. Dalam materialisme historis ini yang penting dalam materi di paham materialisme historis adalah pabrik , alat produksi , sehingga siapa yang menguasai pabrik atau alat produksi maka dialah yang dapat membuat sejarah atau mengubah sejarah. Sehingga gagasan baru bisa diwujudkan apabila ada materinya . Dasar tersebt tercermin dari suprastruktur masyarakat berupa agama , seni , filsafat , hukum , lembaga.

Metafisika Idealisme 

Dalam metafisika idealisme dikatakan bahwa realitas ada karena idea tau gagasan sehingga ide itulah yang abadi sebagai realitas .
Tokoh metafisika idealisme adalah Immanuel Kant dan Plato
Menurut Immanuel Kant (1724-1804) mengatakan bahwa ada garis pembatas antara benda itu sendiri (das ding an sich) dan benda yang teramati (benda itu bagiku) . Hal ini menunjukan bahwa pengamat tersebut dalam mengamati suatu benda mempunyai kekurangan atau keterbatasan . misalnya saja seseorang di sebelah kiri dari buku melihat buku yang ada di depan dengan jarak 1 meter berbeda melihat buku tersebut dengan seseorang di sebelah kanan dari buku itu . Sehinga kita tidak tahu pasti apa yang kita akan alami , tetapi kita dapat mengetahuinya yang terjadi ada dalam ruang dan waktu maka berlakulah hukum kausalitas.
Menurut Plato (428-347 SM) mengatakan bahwa pasti ada realitas di balik dunia materi . itulah pola bentuk yang abadi yaitu ide. Melihat dari suatu contoh orang yang terdapat dalam gua yang diikat tangannya dan melihat ke dalam dinding gua dan orang tersebut hanya melihat pantulan yang dipantulkan dari dinding gua tersebut menjadikan bahwa rutinitas (bayang-bayang) dianggap sebagai sesuatu yang hakiki padahal yang riil itu adalah ide (bayangan akan sesuatu yang ideal).

Refleksi : 
Tangapan kami terhadap rangkuman tersebut adalah bahwa terdapat dua perbedaan mendasar dari metafisika materialisme dan metafisika idealisme . Perbedaan tersebut adalah bahwa metafisika materialisme tebentuk dari sesuatu hal yang materi , sedangkan metafisika idealisme terbentuk dari sesuatu yang idea tau gagasan . Materialisme menerangkan bahwa segala peristiwa diatur oleh hukum alam , padahal pada hakekatnya hukum alam ini adalah perbuatan rohani juga. Materialisme mendasarkan segala kejadian dunia dan kehidupan pada asal benda itu sendiri , padahal dalil itu menunjukkan adanya sumber dari luar alam itu sendiri yaitu Tuhan. Sehingga menurut kami materialisme tidak sanggup menerangkan suatu kejadian rohani yang paling mendasar sekalipun.

Diskusi :
bagaimana hubungan pikiran kita tentang dunia di sekitar kita dengan dunia itu sendiri ? Dapatkah pikiran kita mengenal dunia yang sebenarnya? Dapatkah kita menghasilkan pencerminan tepat dari realitas di dalam ide-ide dan pengertian-pengertian kita tentang dunia yang sebenarnya itu?

TOPIK KE I : PENGERTIAN FILSAFAT

Pengertian filsafat:

Sesuatu yang mempengaruhi banyak aspek kehidupan dan pengalaman kita, namun bagi banyak orang tampak sebagai sebuah bidang ilmu yang sulit dan “bukan untuk semua orang”.
  • Philein = mencintai, philos = teman
  • Sophos = bijaksana, sophia = kebijaksanaan
  • Filsafat diawali oleh sikap senang menyelidiki sesuatu, bukan sikap menerima apa adanya.
  • Sebagai proses filsafat = ilmu (genetivus objectivus)
  • Sebagai produk falsafah = pandangan hidup (genetivus subjectivus)
Kelahiran filsafat:

Filsafat berasal ketika manusia mulai berusaha memahami dunianya, bukan melalui agama atau dengan menerima autoritas lain, melainkan dengan menggunakan rasio. Orang – orang yunani telah mengawalinya sekitar enam abad sebelum masehi. Pertanyaan – pertanyaan mereka yang paling awal adalah “ terbuat dari apakah dunia?” dan “apayang membuat dunia bertahan ?”
Thales ialah filsuf yang paling awal pada abad 6 sm. Ia adalah seorang ahli teknik sipil.

Salah satu pertangayaan Thales “terbuat dari apakah dunia ini?” menurut Thales, dunia materi dapat direduksi menjadi sebuah unsur tunggal , namun ia keliru menganggap bahwa unsur itu adalah air.


Hirakleitos berkata bahwa karakter seorang manusia merupakan takdirnya. Lebih dari dua ribu tahun kemudian, hal itu dikemukakan kembali oleh sigmund freud

Socrates ialah filsuf yang terkenal. Ia berusaha mengungkapkan realitas abstrak itu. Oleh muridnya plato, pandangan itu lantas dikembangkan menjadi sebuah kepercayaan terhadp ide – ide abstrak sebagai bentuk sempurna dan permanen dari semua hal dan sifat didunia yang tidak sempurna dan permanen ini.

Filsafat adalah induk ilmu (mater scientiarum)
Ciri – ciri:

Objek yang khas (tertentu)
  1.  Material : sasaran pemikiran (gegenstand)
  2.  Formal : sudut pandang atas objek material
Sistematika
(a) Cabang – cabang :Metafisika, Ontologi , Teologia, aksiologi

Metode : teknik penyelidikan
Universalitas : keterimaan intersubjektif
Metode fisafat
Metode penelieian :

1. Interpretasi
2. Induksi & deduksi
3. Koherensi intern
4. Holistik
5. Kesinambungan historis
6. Idealisasi
7. Komparasi
8. Analogikal
9. Deskripsi
10. Heuristik
11. Dll

Beda dengan Metode berpikir:

1. Metode kritis
2. Metode intuitif
3. Metode skolastik
4. Metode geometris
5. Metode eksperimental
6. Metode kritis transendental
7. Metode dialektis
8. Metode fenomenologis
9. Metode neo-positivisme
10. Metode analitika

Universitas filsafat
Karl Popper
  • Semua ilmu harus terbuka untuk diuji. Jika tidak, ia menjadi pengtahuan (non ilmiah), seperti agama.
  • Ilmu (teori ) diuji dengan menunjukan ketidak benarannya (falsifikasi).
Thomas Kuhn
Ada 2 tahap perubahan : normal, revolusi
  • Pada tahap normal, baru ditemukan penyimpangan. Kritik ditujukan justru ke reputasi si teoretisi lama, baru ke pemikirannya. Jika ia gagal bertahan akan terjadi revolusi
  •  Aspek sosiologis(komunikasi intersubjektif)
Pergeseran Paradigma

Pandang tiap ilmuan pada abad tertentu berubah.

Contohnya:

  • Teori phlogiston (1733-1804), panas adalah zat yang disebu phlogiston. Kayu adalah kombinasi dari phlogiston & arang. Saat terbakar phlogiston terlepas, yang tinggal arang.
  • Teori oksigen (1743-1784) panas adalah reaksi kimia. Panas terjadi selalu melibatkan oksigen, sehingga panas adalah proses oksidasi
  • Teori tenaga (1818-1889) panas adalah energi